selasa, 13 Januari 2009 ini aku mengamati sebuah videotron di jalan pemuda. ada cuplikan video yang sedang ditayangkan disana. berkisah di salah satu jalan protokol di semarang, dimana ada seorang pengguna jalan mengendarai suzuki carry berwarna biru metalik. pengemudi tersebut nampak terburu-buru dan tak menghiraukan lampu merah di hadapanya. seorang polisi yang bertugas jaga di persimpangan jalan tersebut menghentikanya dan meminta pengemudi itu menunjukkan surat-suratnya dan diminta menuju pos polisi yang tidak jauh dari situ. disana pengemudi tersebut mengomel, dengan alasan ini-itu yang terlambat lah, yang buru-buru lah, dan lain sebagainya. dengan sabar sang polisi mengeluarkan buku surat tilang, lalu memungut secarik kertas dari kantongnya. di atas kertas tersebut ditulislah beberapa hal, dan dilipatnya lalu diserahkan pada pengemudi tersebut.
pengemudi itu pun berlalu masih dengan wajah kesalnya. sementara polisi tersebut mengemasi barang-barangnya. ini adalah hari terakhirnya bertugas di semarang, demikian isi surat tugas yang barusan dibacakan atasanya sekembalinya dari pos. usai melepas seragam dinasnya, polisi itupun menuju terminal terboyo diantarkan beberapa teman sejawat. setelah turun dari jeep terbuka yang biasa digunakanya tuk patroli, bus malino telah menantinya disana. dia lambaikan tanganya pada teman-teman yang telah bertugas bersamanya selama beberapa tahun terakhir. dan dia pun berlalu.

sementara itu sang pengemudi tiba di rumah masih dengan ekspresi kesal. dia tak banyak bicara hingga saat keluarganya berkumpul di ruang tengah untuk makan malam, sang istri bertanya ada apa gerangan dengan suaminya, dan dengan nada masih kesal dia berikan secarik kertas dari polisi tadi. dengan penuh rasa ingin tahu sang istri membukanya, dia temukan STNK di dalam secarik kertas yang dia buka, dan didapati surat dari polisi itu. sang suami kaget, dia terlalu emosi tuk menyadari bahwa yang diberikan polisi itu adalah surat, bukan resi tilang.

dibawanya surat itu, dan dibacanya dengan seksama. sang polisi itu meminta maaf, dan dia bercerita di dalam suratnya. entah benar atau salah, polisi itu seperti mengenal pengemudi tersebut. wajah dan suaranya mirip dengan teman sekolahnya dulu. dan kejadian barusan mengingatkan polisi itu akan sebuah kesalahan yang dulu dilakukanya. saat itu dia terburu-buru entah dalam tugas atau apa, hingga melanggar lampu merah. dan kala itu dia tidak menyadari ada seorang bocah berseragam SD sedang dituntun ibunya menyeberang jalan dan tertabraklah mereka berdua. dia tak ingin kesalahan yang sama menimpa sahabat semasa kecilnya.

sang pengemudi yang baru menyadari kalau polisi tersebut memang teman semasa SMK dulu merasa bersalah telah mengomel di hadapan sahabatnya sendiri yang berusaha mengingatkannya. dia sadar dan segera ke pos polisi tersebut keesokan harinya. namun sahabat lama yang dimaksud tidak ada di tempat, dia telah dipindah tugaskan ke tempat lain…

ternyata ada juga ya film semacam ini di videotron, baru tau saya…

  • Share/Bookmark