<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wisnu IS Not Unix &#187; puisi</title>
	<atom:link href="http://harindrawisnu.web.id/tag/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harindrawisnu.web.id</link>
	<description>Linux &#124; Open Source &#124; Ubuntu &#124; Algorithm &#124; Logic &#124; Network &#124; IT &#124; Articles</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Aug 2010 11:55:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sedang ingin memujimu</title>
		<link>http://harindrawisnu.web.id/sedang-ingin-memujimu/</link>
		<comments>http://harindrawisnu.web.id/sedang-ingin-memujimu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 12:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poet]]></category>
		<category><![CDATA[words]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harindrawisnu.web.id/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[neng geulis dengan rambut panjang terurai
atau idola pujaan berambut pirang menantang
tiada yang lebih cantik dari jilbabmu duhai wanitaku
lembaran kain terlipat rapi begitu manis membingkai parasmu nan rupawan
mata elok yang senantiasa berbinar saat menatapku
pipi lucu yang berkerut menampakkan lesung indah kala kau tersipu
serta bibir lembut dan hidung mungil yang semakin menambah pesona pemandangan di sela-sela jilbabmu
membuatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>neng geulis dengan rambut panjang terurai<br />
atau idola pujaan berambut pirang menantang<br />
tiada yang lebih cantik dari jilbabmu duhai wanitaku<br />
lembaran kain terlipat rapi begitu manis membingkai parasmu nan rupawan<br />
mata elok yang senantiasa berbinar saat menatapku<br />
pipi lucu yang berkerut menampakkan lesung indah kala kau tersipu<br />
serta bibir lembut dan hidung mungil yang semakin menambah pesona pemandangan di sela-sela jilbabmu<br />
membuatku membisu terpaku tanpa daya</p>
<p>gelegar ucapan para orator yang menundukkan ribuan kepala<br />
atau nyanyian-nyanyian merdu musisi terkemuka di berbagai penjuru dunia<br />
tiada yang lebih menarik di telingaku<br />
bila dibandingkan tutur kata lembut kekasihku<br />
bisikan kalimat syahdu merayu yang tulus dari hati nan bersahaja<br />
senantiasa mengalun menyuarakan haru dan tawa dalam melodi</p>
<p>berbagai kemolekan lalu lalang di sekitarku<br />
berenggak-lenggok menawarkan pesona di sudut pandanganku<br />
namun di hati ini tiada yang dapat menggantikanmu wahai perempuanku<br />
pesona auramu memancar bersama sinar mentari memberi warna pada hari-hariku<br />
lembut belaimu menghangatkanku diantara dinginnya angin malam<br />
memanjakanku dengan jemari kecilmu</p>
<p>kau selalu hadir dalam hidupku<br />
di nyata dan mimpiku<br />
senantiasa memenuhi hati serta pikiranku</p>
<p>meski kau tak ada disini menemaniku menulis bait-bait ini<br />
namun cukup dengan menutup mata, sosokmu muncul dalam sekejap di hadapanku<br />
menawarkan sejuta inspirasi dengan tangan terbuka<br />
membisikkan sejuta semangat bagi langkahku<br />
membangkitkan sejuta asa dalam dada</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fharindrawisnu.web.id%2Fsedang-ingin-memujimu%2F&amp;linkname=Sedang%20ingin%20memujimu"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harindrawisnu.web.id/sedang-ingin-memujimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lumpur di Tengah Gurun</title>
		<link>http://harindrawisnu.web.id/lumpur-di-tengah-gurun/</link>
		<comments>http://harindrawisnu.web.id/lumpur-di-tengah-gurun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 10:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poet]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harindrawisnu.web.id/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Lama gk bikin puisi, sore tadi terinspirasi untuk buat lagi, selamat menikmati&#8230;

Lumpur di Tengah Gurun

sore tadi mendung menyelimuti pesisir kota ini
membawa kelam menghalangi sinar mentari
hingga kini membasahi tanah disekitarku
hujan ini kembali mengingatkanku akan dirimu
setiap tetesnya mendendangkan namamu
membawa bayangmu menari-nari diantara genangan air
melambai-lambai bersama hembusan angin
hujan mereda, awan berlalu
secercah sinar mentari berjatuhan ke bumi
menghijaukan kembali dedaunan
memerahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama gk bikin puisi, sore tadi terinspirasi untuk buat lagi, selamat menikmati&#8230;<br />
<a href="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/lonely_desert.jpg"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/lonely_desert-300x187.jpg" alt="lonely_desert" title="lonely_desert" width="300" height="187" class="alignleft size-medium wp-image-460" /></a><br />
Lumpur di Tengah Gurun<br />
<span id="more-450"></span><br />
sore tadi mendung menyelimuti pesisir kota ini<br />
membawa kelam menghalangi sinar mentari<br />
hingga kini membasahi tanah disekitarku</p>
<p>hujan ini kembali mengingatkanku akan dirimu<br />
setiap tetesnya mendendangkan namamu<br />
membawa bayangmu menari-nari diantara genangan air<br />
melambai-lambai bersama hembusan angin</p>
<p>hujan mereda, awan berlalu<br />
secercah sinar mentari berjatuhan ke bumi<br />
menghijaukan kembali dedaunan<br />
memerahkan lagi raut-raut wajah sayu<br />
membirukan hati yang bisu</p>
<p>bayangmu masih disini<br />
menari-nari diantara genangan air<br />
meninggalkan jejak langkah serta hembusan nafasmu</p>
<p>hari semakin tua<br />
senja tak menyisakan cahaya sore<br />
gumpalan awan menutupi matahari yang semakin redup<br />
tenggelam dibalik cakrawala</p>
<p>bertaut lutut dengan tanah merebah serendah-rendahnya diri<br />
kusapu genangan dihadapanku<br />
meraba-raba dasarnya mencari jejak langkah kaki kecilmu</p>
<p>bayangmu serasa menghinaku yang tiada menemukan apa-apa<br />
dendang gumamanmu melantunkan lagu sedih dengan nada ceria<br />
menari-nari kesana kemari memecah percik air<br />
membasahiku dengan lumpur dan noda</p>
<p>malam semakin larut<br />
meringkuk aku dalam gelap<br />
kutatap genangan di hadapanku<br />
tak setetes airpun bergerak disana semenjak hujan berlalu sore tadi</p>
<p>kuusap lumpur di wajahku hingga pandanganku lebih jelas<br />
kembali kutatap genangan di hadapanku<br />
sama sekali tidak bergerak<br />
masih tenang diam membatu<br />
bahkan hembusan angin sama sekali tak merubah posisinya</p>
<p>kembali kuraba tanah itu<br />
kering<br />
tiada tanda-tanda bekas hujan sama sekali</p>
<p>kunanti fajar hingga mentari kembali menyingsing<br />
agar mata ini kembali melihat dengan jelasnya</p>
<p>tiada kudapati bekas kubangan air<br />
bahkan embun tak setetespun membasahi tanah di sekitarku<br />
yang ada hanya hamparan gurun pasir tiada berujung yang kering dan tandus<br />
tiada dendangan tetes hujan<br />
tiada tarian-tarian kecil diantara kubangan air<br />
meski jelas-jelas wajah ini kelam berlumpur</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fharindrawisnu.web.id%2Flumpur-di-tengah-gurun%2F&amp;linkname=Lumpur%20di%20Tengah%20Gurun"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harindrawisnu.web.id/lumpur-di-tengah-gurun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeritan dari Cianjur</title>
		<link>http://harindrawisnu.web.id/jeritan-dari-cianjur/</link>
		<comments>http://harindrawisnu.web.id/jeritan-dari-cianjur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 14:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poet]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harindrawisnu.web.id/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[siang itu mentari mulai beranjak ke barat
meski demikian masih terasa teriknya
menghangatkan bumi tempatku berpijak
menembus cadas di tepian bukit
masih belum sadar aku akan apa yang terjadi
berdiriku diantara jiwa-jiwa sayu
sekumpulan wajah pucat pasi
yang tersebar di hamparan tandus bebatuan
masih tersisa sedikit getaran di tanah yang kuinjak
sisa-sisa gempa yang baru saja mengguncang negriku
membelah lembah menyayat bukit
menebar maut dan pilu
tungkai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>siang itu mentari mulai beranjak ke barat<br />
meski demikian masih terasa teriknya<br />
menghangatkan bumi tempatku berpijak<br />
menembus cadas di tepian bukit</p>
<p>masih belum sadar aku akan apa yang terjadi<br />
berdiriku diantara jiwa-jiwa sayu<br />
sekumpulan wajah pucat pasi<br />
yang tersebar di hamparan tandus bebatuan</p>
<p>masih tersisa sedikit getaran di tanah yang kuinjak<br />
sisa-sisa gempa yang baru saja mengguncang negriku<br />
membelah lembah menyayat bukit<br />
menebar maut dan pilu</p>
<p>tungkai kakiku jatuh tersungkur<br />
beradu lutut ini menghujam tanah bebatuan<br />
baru kusadari pergelangan kaki kiriku membengkak<br />
sementara beberapa memar terasa di lenganku</p>
<p>dihadapanku tampak seorang bocah<br />
duduk bersimpu tampak mengais sesuatu<br />
jemari kecilnya mencakar-cakari tanah<br />
memungut serpihan demi serpihan batu disana</p>
<p>tangisnya menyeruak memecah keheningan<br />
nafasnya terengah-engah sesenggukan<br />
tak jelas apa yang ia coba katakan<br />
tak jelas nama siapa yang ia teriakkan</p>
<p>kuku-kuku jemari bocah itu mulai berdarah<br />
meski demikian tak ia hiraukan<br />
tiada henti ia terus menerus menggali<br />
berharap menemukan sesuatu yang ia cari</p>
<p>kaki kiriku masih mati rasa<br />
belum dapat ku bangkit kembali tuk berdiri tegak<br />
ku hanya bisa bersimpuh diantara bebatuan<br />
menatap galau kesekitarku</p>
<p>mentari semakin menurun dan mulai tampak kemerahan<br />
belum beranjak diriku dari tempatku berada tadi<br />
teriakan-teriakan disekitarku mulai mereda<br />
tinggal suara tangis pilu dari jiwa-jiwa yang sayu</p>
<p>mulai terasa nyeri dan perih di kaki kiriku<br />
serasa dikuliti hidup-hidup<br />
ngilu yang tak tertahankan merasuk ke sumsum tulangku<br />
aku tak kuasa menahan hingga tetes airmata perih membasahi pipi ini</p>
<p>kurebahkan diriku dihamparan bebatuan<br />
sementara orang-orang mulai berlarian disekitarku<br />
sebagian menjauh dengan penuh cemas dan ketakutan<br />
sebagian berdatangan mengais diantara puing-puing</p>
<p>kucoba memejamkan mata diantara perih yang kurasa<br />
namun mata ini seolah ikut merasakan nyeri di kakiku<br />
kulihat bocah kecil tadi tak sadarkan diri di atas tandu<br />
dengan tangan masih berlumuran darah</p>
<p>suara lolongan yang kudengar tepat disampingku telah hilang sama sekali<br />
hingga kudapati dia telah menjadi mayat<br />
dengan darah kehitaman mengalir dari hidung dan telinganya<br />
tertimbun belasan butir batu cadas sebesar semangka</p>
<p>aku masih lemas tak berdaya<br />
nyeri di kakiku mulai menghilang<br />
entah memang sudah senja atau hanya perasaanku saja<br />
tapi segala sesuatu disekitarku semakin gelap</p>
<p>sepasang tangan menepuk-nepuk pipiku<br />
pasang tangan lain mengguncang tangan dan tubuhku<br />
sesekali ia menempelkan telinganya di dadaku<br />
lalu menekan-nekan dengan kedua tangannya</p>
<p>aku tahu semua yang mereka lakukan<br />
namun seiring rasa perih di kakiku menghilang<br />
aku tak pula dapat merasakan sentuhan-sentuhan mereka<br />
tak lagi dapat melihat wajah dan tangan-tangan mereka</p>
<p>wisnu untuk Indonesiaku<br />
read on <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=129132821675" target="_blank">facebook</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fharindrawisnu.web.id%2Fjeritan-dari-cianjur%2F&amp;linkname=Jeritan%20dari%20Cianjur"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harindrawisnu.web.id/jeritan-dari-cianjur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutitipkan hati ini padamu</title>
		<link>http://harindrawisnu.web.id/kutitipkan-hati-ini-padamu/</link>
		<comments>http://harindrawisnu.web.id/kutitipkan-hati-ini-padamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 02:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poet]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnu.simplify-it.info/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[baru inget dulu pernah bikin puisi tapi belum ku masukin ke blog&#8230; monggo dibaca&#8230;
Kutitipkan hati ini padamu
kuakui aku tak sempurna, hanya manusia biasa
raga ini usang penuh cacat dan noda
bersimbah lumpur khilaf dan dosa
lusuh diantara tautan waktu dan masa
begitu pula hati ini telah rapuh dan tua
terselimuti kerak kotoran kelabu
dengan sayatan-sayatan lama di berbagai sisinya
penuh luka memar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>baru inget dulu pernah bikin puisi tapi belum ku masukin ke blog&#8230; monggo dibaca&#8230;</p>
<p>Kutitipkan hati ini padamu<span id="more-279"></span></p>
<p>kuakui aku tak sempurna, hanya manusia biasa<br />
raga ini usang penuh cacat dan noda<br />
bersimbah lumpur khilaf dan dosa<br />
lusuh diantara tautan waktu dan masa</p>
<p>begitu pula hati ini telah rapuh dan tua<br />
terselimuti kerak kotoran kelabu<br />
dengan sayatan-sayatan lama di berbagai sisinya<br />
penuh luka memar membiru</p>
<p>saat tangan lembutmu menyentuh hatiku<br />
diiringi hangat kehadiranmu<br />
aku terdiam<br />
tertunduk malu penuh tanya</p>
<p>kupunguti asa nan berceceran di sepanjang jalan hidupku<br />
kepingan demi kepingan kususun kembali dalam bingkai hatimu<br />
kurasakan dekapan eratmu menguatkannya kembali<br />
dan menorehkan warna baru diatasnya</p>
<p>meski jiwa dan raga ini telah ternoda<br />
meski hati dan sukmaku tlah koyak<br />
namun kerinduanku padamu menuntun jalan ini<br />
menuju fajar baru nan cerah di ufuk sana</p>
<p>kelopak mata hatiku mulai terbuka<br />
menguak kerak nan tertimbun lama<br />
menepis memar dan luka<br />
tuk sekedar melirik sinarmu</p>
<p>kutitipkan hati ini padamu<br />
hati yang koyak ini merindukan belaianmu<br />
hati yang rapuh ini mendambakan hangat pelukmu<br />
jiwa ini ingin selalu bersamamu</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fharindrawisnu.web.id%2Fkutitipkan-hati-ini-padamu%2F&amp;linkname=Kutitipkan%20hati%20ini%20padamu"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harindrawisnu.web.id/kutitipkan-hati-ini-padamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>puisi tengah malam</title>
		<link>http://harindrawisnu.web.id/puisi-tengah-malam/</link>
		<comments>http://harindrawisnu.web.id/puisi-tengah-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 17:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poet]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnu.simplify-it.info/2009/01/10/puisi-tengah-malam/</guid>
		<description><![CDATA[tiba2 dapet inspirasi buat nulis puisi&#8230; ini hasilnya 
malam telah berlalu
detik demi detik bersiap menyambut fajar
sosok cahaya pembawa benang putih diantara gelap
sebuah harapan baru di masa yang berbeda
terjaga aku berkawan waktu
masih berselimut dingin
mencoba menghitung angan dan asa
mengumpulkan kembali puing kehidupan yang berserakan
di atas figura hati
kususun kembali bongkahan demi bongkahan
berusaha membentuk pelangi dalam gelap
berharap mentari esok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tiba2 dapet inspirasi buat nulis puisi&#8230; ini hasilnya <span id="more-58"></span></p>
<p>malam telah berlalu<br />
detik demi detik bersiap menyambut fajar<br />
sosok cahaya pembawa benang putih diantara gelap<br />
sebuah harapan baru di masa yang berbeda</p>
<p>terjaga aku berkawan waktu<br />
masih berselimut dingin<br />
mencoba menghitung angan dan asa<br />
mengumpulkan kembali puing kehidupan yang berserakan</p>
<p>di atas figura hati<br />
kususun kembali bongkahan demi bongkahan<br />
berusaha membentuk pelangi dalam gelap<br />
berharap mentari esok menuangkan warna diatasnya</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fharindrawisnu.web.id%2Fpuisi-tengah-malam%2F&amp;linkname=puisi%20tengah%20malam"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harindrawisnu.web.id/puisi-tengah-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sosok Fajar di Desa Nyemoh</title>
		<link>http://harindrawisnu.web.id/sosok-fajar-di-desa-nyemoh/</link>
		<comments>http://harindrawisnu.web.id/sosok-fajar-di-desa-nyemoh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 01:08:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poet]]></category>
		<category><![CDATA[jalan2]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnu.simplify-it.info/2008/07/24/sosok-fajar-di-desa-nyemoh/</guid>
		<description><![CDATA[fajar kembali muncul
mentari yang sama dari sudut cakrawala yang sama
membuka lembaran baru hari ini
menambahkan jingga pada selimut tanah yang kupijak
sorot cahaya membelah embun
memecah kabut pagi nan mulai menipis
membentangkan bayangan dan gradasi warna
menorehkan jejak nan terus berlari seiring jalannya waktu
bayangku kian mendekat
ujung kepala nan jauh disana
samar-samar mulai nampak di sisiku
membentuk garis tubuh yang semakin jelas
tepat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>fajar kembali muncul<br />
mentari yang sama dari sudut cakrawala yang sama<br />
membuka lembaran baru hari ini<br />
menambahkan jingga pada selimut tanah yang kupijak<span id="more-42"></span></p>
<p>sorot cahaya membelah embun<br />
memecah kabut pagi nan mulai menipis<br />
membentangkan bayangan dan gradasi warna<br />
menorehkan jejak nan terus berlari seiring jalannya waktu</p>
<p>bayangku kian mendekat<br />
ujung kepala nan jauh disana<br />
samar-samar mulai nampak di sisiku<br />
membentuk garis tubuh yang semakin jelas</p>
<p>tepat di samping bayangan itu<br />
sosok lain bermunculan<br />
bayang-bayang hitam di atas tanah<br />
lalu-lalang silih berganti</p>
<p>mentari semakin tinggi<br />
dedaunan mulai menampakkan warnanya<br />
menebarkan kesejukan sisa-sisa embun pagi tadi<br />
menaungiku diantara bayang-bayangnya</p>
<p>kaki ini mulai melangkah<br />
satu demi satu jejak membekas di atas tanah ini<br />
menyisakan lekukan-lekukan beraturan<br />
membentuk pola nan menyimpan sejuta makna</p>
<p>langkahku semakin jauh<br />
jejak kakiku semakin panjang<br />
terus bertambah<br />
lagi dan lagi</p>
<p>mentari mulai terik<br />
menyinariku dan segala sesuatu di sekitarku<br />
menerangi setiap langkah yang kubuat<br />
dan menuntunku menyusurinya</p>
<p>sejenak langkah ini terhenti<br />
diatas bebatuan hitam bergelombang<br />
tempat menambatkan pelana dan laso<br />
sekedar meregangkan tulang dan otot</p>
<p>mentari masih begitu terik<br />
kala tubuh ini terduduk sendiri di atas cadas<br />
dikelilingi angin siang nan sedikit berdebu<br />
membawa salam dari kota</p>
<p>perjalanan berlanjut<br />
kuukir langkah-langkah baru diatas tanah<br />
menorehkan pertanda keberadaan dan ketiadaan<br />
pada siapapun yang melihat jejaknya</p>
<p>ke timur kulangkahkan kaki<br />
dimana mentari mulai condong di belakangku<br />
sembari berdendang menyapa alam<br />
dan menari bersamanya</p>
<p>langkahku terhenti sejenak<br />
sosok yang tadi menemani bayangku kembali lagi<br />
menampakkan wujud jelitanya<br />
berkalang suara merdu dan langkah ceria</p>
<p>senja mulai menyapa<br />
bertutur kata lembut menjemput malam<br />
menuangkan dingin dan sejuknya ke atas kami<br />
menyelimuti hari dengan kegelapan</p>
<p>diantara gelap dan dinginya malam<br />
bayangan-bayangan tadi mulai menghilang<br />
seiring sirnanya cahaya mentari<br />
nan terusik senja malam ini</p>
<p>kepala nan tertunduk mulai menengadah<br />
meraba-raba dalam gelap<br />
kuamati satu sosok dengan seksama<br />
sosok yang kulihat bayangannya siang tadi</p>
<p>sedikit demi sedikit mulai jelas dimataku<br />
terekam dengan baik setiap sudut padanya<br />
setiap sisi dirinya<br />
dan segala sesuatu tentangnya</p>
<p>sebait senyum yang menghangatkan dinginnya malam<br />
ceria yang menyinari gelapnya malam<br />
laksana mentari yang beranjak terbit<br />
menghadirkan suasana pagi di malam-malamku</p>
<p>tercatat rapi laksana puisi<br />
terpahat indah bak prasasti<br />
setiap ingatan-ingatan tentangnya<br />
sosok fajar di desa kami</p>
<p>Nyemoh, 24 Juli 2008 01:48</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fharindrawisnu.web.id%2Fsosok-fajar-di-desa-nyemoh%2F&amp;linkname=Sosok%20Fajar%20di%20Desa%20Nyemoh"><img src="http://harindrawisnu.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harindrawisnu.web.id/sosok-fajar-di-desa-nyemoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
