siang itu mentari mulai beranjak ke barat
meski demikian masih terasa teriknya
menghangatkan bumi tempatku berpijak
menembus cadas di tepian bukit
masih belum sadar aku akan apa yang terjadi
berdiriku diantara jiwa-jiwa sayu
sekumpulan wajah pucat pasi
yang tersebar di hamparan tandus bebatuan
masih tersisa sedikit getaran di tanah yang kuinjak
sisa-sisa gempa yang baru saja mengguncang negriku
membelah lembah menyayat bukit
menebar maut dan pilu
tungkai kakiku jatuh tersungkur
beradu lutut ini menghujam tanah bebatuan
baru kusadari pergelangan kaki kiriku membengkak
sementara beberapa memar terasa di lenganku
dihadapanku tampak seorang bocah
duduk bersimpu tampak mengais sesuatu
jemari kecilnya mencakar-cakari tanah
memungut serpihan demi serpihan batu disana
tangisnya menyeruak memecah keheningan
nafasnya terengah-engah sesenggukan
tak jelas apa yang ia coba katakan
tak jelas nama siapa yang ia teriakkan
kuku-kuku jemari bocah itu mulai berdarah
meski demikian tak ia hiraukan
tiada henti ia terus menerus menggali
berharap menemukan sesuatu yang ia cari
kaki kiriku masih mati rasa
belum dapat ku bangkit kembali tuk berdiri tegak
ku hanya bisa bersimpuh diantara bebatuan
menatap galau kesekitarku
mentari semakin menurun dan mulai tampak kemerahan
belum beranjak diriku dari tempatku berada tadi
teriakan-teriakan disekitarku mulai mereda
tinggal suara tangis pilu dari jiwa-jiwa yang sayu
mulai terasa nyeri dan perih di kaki kiriku
serasa dikuliti hidup-hidup
ngilu yang tak tertahankan merasuk ke sumsum tulangku
aku tak kuasa menahan hingga tetes airmata perih membasahi pipi ini
kurebahkan diriku dihamparan bebatuan
sementara orang-orang mulai berlarian disekitarku
sebagian menjauh dengan penuh cemas dan ketakutan
sebagian berdatangan mengais diantara puing-puing
kucoba memejamkan mata diantara perih yang kurasa
namun mata ini seolah ikut merasakan nyeri di kakiku
kulihat bocah kecil tadi tak sadarkan diri di atas tandu
dengan tangan masih berlumuran darah
suara lolongan yang kudengar tepat disampingku telah hilang sama sekali
hingga kudapati dia telah menjadi mayat
dengan darah kehitaman mengalir dari hidung dan telinganya
tertimbun belasan butir batu cadas sebesar semangka
aku masih lemas tak berdaya
nyeri di kakiku mulai menghilang
entah memang sudah senja atau hanya perasaanku saja
tapi segala sesuatu disekitarku semakin gelap
sepasang tangan menepuk-nepuk pipiku
pasang tangan lain mengguncang tangan dan tubuhku
sesekali ia menempelkan telinganya di dadaku
lalu menekan-nekan dengan kedua tangannya
aku tahu semua yang mereka lakukan
namun seiring rasa perih di kakiku menghilang
aku tak pula dapat merasakan sentuhan-sentuhan mereka
tak lagi dapat melihat wajah dan tangan-tangan mereka
wisnu untuk Indonesiaku
read on facebook