Lama gk bikin puisi, sore tadi terinspirasi untuk buat lagi, selamat menikmati…

Lumpur di Tengah Gurun
sore tadi mendung menyelimuti pesisir kota ini
membawa kelam menghalangi sinar mentari
hingga kini membasahi tanah disekitarku
hujan ini kembali mengingatkanku akan dirimu
setiap tetesnya mendendangkan namamu
membawa bayangmu menari-nari diantara genangan air
melambai-lambai bersama hembusan angin
hujan mereda, awan berlalu
secercah sinar mentari berjatuhan ke bumi
menghijaukan kembali dedaunan
memerahkan lagi raut-raut wajah sayu
membirukan hati yang bisu
bayangmu masih disini
menari-nari diantara genangan air
meninggalkan jejak langkah serta hembusan nafasmu
hari semakin tua
senja tak menyisakan cahaya sore
gumpalan awan menutupi matahari yang semakin redup
tenggelam dibalik cakrawala
bertaut lutut dengan tanah merebah serendah-rendahnya diri
kusapu genangan dihadapanku
meraba-raba dasarnya mencari jejak langkah kaki kecilmu
bayangmu serasa menghinaku yang tiada menemukan apa-apa
dendang gumamanmu melantunkan lagu sedih dengan nada ceria
menari-nari kesana kemari memecah percik air
membasahiku dengan lumpur dan noda
malam semakin larut
meringkuk aku dalam gelap
kutatap genangan di hadapanku
tak setetes airpun bergerak disana semenjak hujan berlalu sore tadi
kuusap lumpur di wajahku hingga pandanganku lebih jelas
kembali kutatap genangan di hadapanku
sama sekali tidak bergerak
masih tenang diam membatu
bahkan hembusan angin sama sekali tak merubah posisinya
kembali kuraba tanah itu
kering
tiada tanda-tanda bekas hujan sama sekali
kunanti fajar hingga mentari kembali menyingsing
agar mata ini kembali melihat dengan jelasnya
tiada kudapati bekas kubangan air
bahkan embun tak setetespun membasahi tanah di sekitarku
yang ada hanya hamparan gurun pasir tiada berujung yang kering dan tandus
tiada dendangan tetes hujan
tiada tarian-tarian kecil diantara kubangan air
meski jelas-jelas wajah ini kelam berlumpur


![Loenpia[dot]Net](http://i459.photobucket.com/albums/qq319/alcatrazia/loenpia-tag-1.gif)


Comments